A password will be e-mailed to you.

Semua tentu sudah melihat berita tentang perilisan “AMO”, album terbaru dari Bring Me The Horizon (setelah ini akan disebut sebagai BMTH) pada tanggal 25 Januari kemarin. Namun mungkin tidak banyak yang tahu dari mana mereka mulai beranjak sebelum menapaki arena yang dianggap poppish saat ini. [Disclaimer] Artikel ini ditulis bukan dengan tujuan memuliakan BMTH, melainkan memberikan sudut pandang lain dalam melihat apa yang mereka kerjakan, yakni musik.

UNITED KINGDOM – AUGUST 23: CAMDEN UNDERWORLD Photo of BRING ME THE HORIZON, -? Naki Kouyioumtzis/ Redferns (Photo by Naki/Redferns)

Profil BMTH; Mengutip dari Loudwire, band asal Inggris ini memulai semuanya dari sesi rekaman amatir dalam kamar milik pentolannya, Oliver Scott Sykes. Dengan hanya berisikan tiga (3) lagu didalamnya, BMTH melepas EP demo mereka yang berjudul “The Bedroom Sessions” di tahun 2004 dan dilanjutkan dengan EP mereka yang berjudul “This Is What the Edge of Your Seat Was Made For” via Visible Noise Records yang akhirnya menghantarkan mereka pada “Count Your Blessings”. Full length pertama mereka yang sukses menghantarkan poni lempar mereka, ke arena berisik Deathcore di tahun 2006. Selanjutnya, mereka menjalani karir bermusik mereka dengan menelurkan “Suicide Season” (2008), “There Is a Hell, Believe Me I’ve Seen It. There Is a Heaven, Let’s Keep It a Secret” (2010), “Sempiternal” (2013), “That’s the Spirit” (2015) dengan berbagai masalah internal dan external tentunya.

Dan di tahun 2019 ini, sampailah kita pada “AMO” yang dalam bahasa Spanyol berarti ‘Cinta’. Selepas perilisan single “MANTRA”, album ini menarik perhatian masa karena prediksi warganet mulai bermunculan tentang bagaimana album selanjutnya akan disajikan. Apakah BMTH akan kembali pada akar musik pertama mereka atau malah masih menyajikan sisa-sisa materi “Thats The Spirit”? Dan *Boom! Semua prediksi terbantah, karena “AMO” bukanlan album yang seperti warganet bayangkan atau pendengar lama BMTH harapkan. Berisi 12 track; “I Apologise If You Feel Something”, ”Mantra”, “Nihilist Blues” (featuring Grimes), “In the Dark”, “Wonderful Life” (featuring Dani Filth), “Ouch”, “Medicine”, “Sugar Honey Ice & Tea”, “Why You Gotta Kick Me When I’m Down?”, “Fresh Bruises”, “Mother Tongue”, “Heavy Metal” (featuring Rahzel), “I Don’t Know What to Say”. Album ini secara general tidak diperuntukan pada kubu manapun. Secara jelas mereka menyatakan album ini bertemakan Cinta (Sesuai namanya), dan diperuntukan pernikahan Oli yang gagal, bagaimana BMTH menikmati masa-masa tanpa tour, dan hal-hal yang tidak berbau Deathcore [let say].

Lagi lagi, karya dari band sekelas merekapun tidak luput dari cemoohan dan umpatan warganet. Namun banyak juga Reviewer yang memberikan tanggapan dengan cara yang lebih dewasa. Mencomot dari BangerTV (via youtube), mereka mengakui album ini memang bukanlah album yang Headbang-able, akan tetapi, secara pengerjaan kreatif, album ini patut mendapat point 3/5 karena penulisan lagu dan rakitan music yang membuat mereka ‘kecantol’. Bimo (@bimopd), seorang metal enthusiast dan youtuber tampan dari Jakarta pun memberikan pendapat serupa. Dengan melihat bagaimana BMTH selalu menggeser genre musiknya di tiap album penuh yang mereka keluarkan, Bimo masih menghargai karya musik BMTH sebagai karya yang bukan hanya baik, namun memberikan kesegaran. Disisi lain, Loudwire membahas pergerakan BMTH sebagai sebuat proses eksperimental yang berhasil dan di eksekusi dengan apik. Akan tetapi perihal selera pendengan musik berisik, atau musik pada umumnya, mereka lepaskan ke warganet.

Baca Juga:  Kygo Akan Menggelar Konser di Jakarta

Dilain pihak, penulis teringat dengan The Beatles, band asal Inggris (sama dengan BMTH) yang melakukan hal serupa sejak awal karirnya. The Beatles, bisa dikatakan sebagai anak gigs keren pada zamannya, lalu selama perjalanan karirnya dan perjalan ‘spiritualnya’, mereka menelurkan album yang selalu menjauh dari awal mereka memulai karir bermusik. Dapat dengan mudah kita lihat dengan membandingkan antara album “Beatles For Sale” dengan “Yellow Submarine”. Yang akhirnya memunculkan pertanyaan di kepala penulis “Apakah BMTH mengambil jalan yang sama dengan The Beatles? Atau hanya sekedar cocoklogi di kepala penulis?”. Jika benar BMTH mengambil langkah yang sama, kira-kira, apa yang akan terjadi jika nanti Oli Sykes mati, dan BMTH tidak lagi menelurkan album?

Banyak skenario yang muncul di kepala penulis, akan tetapi, jika mengingat scene yang pernah ditemui penulis, satu (1) kemungkinan yang paling mungkin~mungkin lho ya~. Mungkin, nanti akan ada BMTH-INDO yang berisikan musisi-musisi Indonesia yang gemar melakukan cover dari lagu-lagu mereka (seperti The Beatles di Indonesia), lalu yang menjadi menariknya adalah, komunitas itu, tidak di isi oleh (hanya) band Deathcore muda, melainkan oleh musisi metalcore, trance, hiphop, trapcore, entah genre apa lagi. Yang mana jika dijadikan sebuat pentas panggung, mungkin akan seperti melihat line up Synchronize Fest. Gado gado. Kereeeeen. Haha! Tapi initinya, BMTH mungkiiiiiin, dapat dikatakan gagal menjadi icon arena Deathcore atau Metalcore, akan tetapi, mereka berhasil menjadi BMTH. Gitu ajah deh.

KOMENTAR

%d blogger menyukai ini: